kewajiban Imam sebelum & sesudah sholat

Gambar  ditulis pada tanggal 10 januari 2013(27 safar 1434 H) pukul 09:42 oleh LUQMANUL HAKIM HAWASYI

imam itu mempunyai kewajiban sebelum shalat , diwaktu membaca bacaan – bacaan shalat, didalam melakukan rukun – rukun shalat dan sesudah salam. adapun kewajiban – kewajiban sebelum shalat ada enam hal, yaitu :

  1. Jangan menjadi imam untuk jama’ah yang membencinya, karena jama’ah itu tidak suka. kemudian jangan menjadi imam sedangkan ada orang yang dianggap lebih memenuhi syarat untuk menjadi imam (adapun syarat untuk imam adalah baligh, fasih dalam mengucapkan huruf, dan mengerti tentang tajwid atau cara membaca al-qur’an dengan benar) kecuali orang tersebut menolak karena tidak suka maju kemuka, maka bolehlah ia maju. disaat itu jika bersikap menolak adalah makruh
  2. Imam harus memlihara waktu shalat, agar bersegera melakukan shalat sunnahnya kemudian jangan menunggu jamaah banyak lagi namun hendaklah menyegerakan shalat fardhu guna memperoleh keridhoan ALLAH SWT. imam tidak perlu menantikan kedatangan orang yang azan, tapi sebaliknya orang yang azanlah yang sepatutnya menantikan kedatangan imam.
  3. Imam harus meniatkan diri ikhlas karena ALLAH SWT serta dengan persaan untuk menunaikan amanat ALLAH SWT. baik dalam thaharah maupun dalam Syarat shalatnya, sebagai bentuk keikhlasannya sebaiknyadia tidak suka menerima upah atas tugasnya itu. Syekh Taqiyuddin bin taimiah rahimahullah berkata : apapun yang diambil dari baitulmal, maka itu bukanlah penggantian atau upah,tetapi ini adalah rezeki untuk menolong dirinya dalam melakukan ketaatan itu. demikian pula harta yang diwakafkan untuk amal kebaikan, atau harta yang diwasiatkan atau yang dinazarkan ini sama sekali bukan sebagai upah atau bayarannya. Al-haritsi berkata : Ulama yang mengatakan terlarangnya mengambil upah untuk balasan melakukan sesuatu peribadatan, tidaklah melarang untuk mengambil sesuatu yang diisyaratkan dalam perwakafan. mengenai amanatnya sebagai imam ialah yang berhubungan dengan thaharah  atau suci bathin dan pastinya harus suci fisiknya juga yang mana seorang imam harus terhindar dari melakukan dosa – dosa kecil apalagi yang besar. juga apabila terjadi suatu hal yang membatalkan wudhu ketika shalat , mungkin tak sengaja mengeluarkan angin (kentut) jangan sekali – kali malu, namun langsung mengambil tangan orang yang ada didekatnya untuk menggantikan posisi imam.
  4. jangan tergesa – gesabertakbir sebelum barisan makmum telah rapi dalam barisannya, sebaiknya imam tersebut memastikan bahwa tidak ada syaf yang bengkok dan renggang. diceritakan bahwa ketika rasul shalat, bahu sahabat saling rapat dan juga tumitnya.
  5. Imam hendaklah membunyikan keras suara takbirnya, baik pada waktu takbiratulihram ataupun takbir pada waktu shalat lainnyaadapun makmum hanya bersuara yang dapat didengar oleh dirinya sendiri, artinya jangan terlalu besar suaranya, takbir makmum dilakukan setelah imam.
  6. apabila seseorang itu disuruh memilih antara berazan atau menjadi imam, hendaklah memilih menjadi imam saja, sekiranya dapat mencukupi syarat – syaratnya. tidak baik jika tugas imam dan azan dilakukan oleh hanya satu orang yang sama, hukumnya makruh. rasulullah bersabda Al-imaamu dhoominun walmu’adzdzinu mu’tamanun; artinya imam adalah yang menjamin, sedang muadzin adalah yang dipercaya.(diriwayatkan oleh Abi Dawud dan Tirmidzi)

Selanjutnya ialah tugas dalam mengucapkan bacaan shalat, terbagi ke dalam tiga hal :

Pertama : Hendaklah tidak mengeraskan suara dalam membaca do’a istiftah dan ta’awwudz. jadi seperti seorang yang sedang shalat munfarid (sendirian). tetapi dalam bacaan alfatihah dan surah yang sesudahnya, hendaklah dikeraskan suaranya, ini dilakukan dalam dua rakaat didalam shalat magrib, isya, dan subuh, walaupun dalam shalat munfarid. tentang bacaan ta’min (amin), maka hendaklah dikeraskan baik oleh imam ataupun ma’mum diwktu shalat yang bacaannya keras. ta’min dibaca secara bersama – sama.

Kedua  : imam harus menjaga tiga kali perhentian (diam sementara), yaitu :

  • diwaktu sesudah tabir untuk membaca do’a istiftah.
  • diwaktu selesai membaca surah al-fatihah.
  • sewaktu setelah surah kedua ketika ingin takbir untuk rukuk.

ma’mum tidak perlu membaca surah lain cukup membaca al-fatihah saja namun ada pengecualian yaitu ketika ma’mum tidak mendengar imam karena jauh sehingga tidak terdengar olehnya.

Ketiga : hendaklah imam memendekkan ayat yang dibaca ketika shalat berjama’ah, berdasarkan sabda rasulullah SAW yaitu : artinya Apabila seseorang dari kamu bersembahyang dengan orang banyak, maka hendaklah diperingan, sebab diantara yang berjam’ah itu ada orang yang lemah, ada yang sudah tua dan ada pula yang mempunyai keperluan. tetapi apabila bersembahyang seorang diri, maka bolehlah memperpanjang sekehendak hatinya. (diriwayatkan oleh bukhori dan muslim). baiklah sahabatku yang budiman untul sementara kajian kita tentang kewajiban imam dicukupkan dahulu, insya allah masih ada lagi kajiannya tentang imam dalam shalat. semoga bermanfaat. wassalam (dikutip dari kitab ihya’ ulumuddin : karangan imam al-ghazali)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s